Skripsi Sosial Ekonomi Pertani
Tingkat Pengetahuan Keterampilan dan Sikap (PKS) Petani Kakao dalam Menghadapi Risiko Iklim di Desa Sejahtera Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi
Hijrawati Adam (E32121096) Tingkat Pengetahuan Keterampilan dan Sikap (PKS) Petani Kakao dalam Menghadapi Risiko Iklim di Desa Sejahtera Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi (dibimbing Oleh Alimudin Laapo dan Ella Robertha, 2024)
Perubahan Iklim menjadi tantangan besar bagi sektor di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah, Kabupaten Sigi. Kakao adalah komoditas unggulan yang menopang perekonimian lokal, tetapi petani menghadapi risiko seperti curah hujan yang tidak menentu, suhu ekstrem, dan serangan hama akibat perubahan iklim. Kecamatan Palolo memiliki luas 581,48 km2 dengan ketinggian 585 meter di atas permukaan laut. Menurut data BPS Kabupaten Sigi (2023), pada bulan Desember kelembapan udara di wilayah ini mencapai 85%, curah hujan rata-rata 27,7 mm per bulan, dan suhu udara rata-rata 29oc. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi risiko iklim yang dihadapi oleh petani kakao di Desa Sejahtera dan mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani kakao serta kemampuan mereka dalam menghadapi risiko iklim.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Desember 2024. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (Purposive). Responden dalam penelitian ini adalah petani kakao di Desa Sejahtera yang berjumlah 36 orang. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis Deskriptif Kualitatif dan Metode Skala Liker. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk memahami dan menggambarkan suatu fenomena, peristiwa, atau situasi berdasarkan data non-numerik (seperti wawancara, observasi, dokumen, dan catatan lapangan). Metode Skala Likert digunakan untuk memahami persepsi dan sikap masyarakat.
Hasil penelitian di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi menunjukkan hasil bahwa Tingkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani kakao di Desa Sejahtera terhadap risiko iklim seperti curah hujan tinggi, angin kencang, dan kelembapan usara tinggi masih bervariasi, dengan pemahaman dan keterampilan tertinggi terlihat pada risiko angin kencang, sementara pengetahuan dan kemampuan adaptasi terhadap curah hujan tinggi dan kelembapan udara masih terbatas, sikap petani secara umum cukup positif terhadap upaya adaptasi, namun masih perlu penguatanm terutama dalam menghadapi risiko kelembapan, beberapa petani mulai menerapkan praktik adaptif seperti agroforestri, sistem drainase, dan teknologi eifisen lainnya untuk mengurangi dampak perubahan iklim, meskipun belum merata.
Tidak tersedia versi lain