Skripsi Budidaya Pertanian
Cekaman Kekeringan Beberapa Kutlivar Padi Gogo Asal Kabupaten Buol Menggunakan PEG 6000 (Polyethylene Glycol) Pada Fase Perkecambahan
SYNTIA S. TANSIDI (E28121118) Cekaman Kekeringan Beberapa Kutlivar Padi Gogo Asal Kabupaten Buol Menggunakan PEG 6000 (Polyethylene Glycol) Pada Fase Perkecambahan (Dibimbing oleh Maemunah dan Rahmi 2025).
Budidaya padi gogo merupakan alternatif yang dapat membantu meningkatkan produksi pangan nasional. Cekaman kekeringan merupakan faktor abiotik utama yang dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, dan produksi padi gogo, bahkan kematian tanaman. Fase perkecambahan merupakan fase awal pertumbuhan tanaman karena berpotensi mempengaruhi kemampuan tanaman pada fase pertumbuhan selanjutnya. Pengetahuan tentang fase kritis tanaman, penting bagi pemuliaan dalam menentukan saat yang tepat untuk memberikan cekaman kekeringan pada program sleeksi untuk menetukan genotipe yang tahan terhadap kekeringan. Salah satu model pengujian yang dapat digunakan dalam melakukan seleksi kultivar yang toleran yaitu dengan penggunaan Polyethylene glycole. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Ilmu Teknologi dan Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan April 2025. Tujuan peneltian yaitu utnuk mengkaji adanya interaksi antara kultivar dengan berbagai konsentrasi pEG 6000, unutk mendapatkan kultivar padi gogo yang tahan terhadap kekeringan pada fase perkecambahan, serta untuk mendapatkan konsentrasi PEG 6000 yang dapat berkecambah normal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dirancang dengan dua faktor dengan pola factorial dan menggunakan RAL. Faktor pertama terdiri dari empat kultivar padi gogo yaitu 1=Pare pulu bongo, 2=Pare langsat, 3=Pare cina, 4=Pare douk. Faktor keduaterdiri atas tiga taraf Konsentrasi PEG 6000 yaitu kontrol (air), 10%,20%, sehingga diperoleh 12 unit percobaan yang diulang sebanyak tiga kali dengan total 36 unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat interaksi antara kultivar pare langsat dengan Konsentrasi 10% menunjukkan kombinasi yang paling stabil dan respon terbaik. Yang menghasilkan waktu berkecambah lebih cepat dan paling stabil, daya kecambah, potensi tumbuh maksimum, serta bobot basah dan bobot kering tertinggi. Kultivar pare langsat merupakan kultivar yang memiliki respon perkecambahan terbaik karena menunjukkan performa keunggulan disetiap parameter. Konsentrasi PEG 10% merupakan konsentrasi yang efektif dalam mempertahankan viabilitas benih padi untuk tumbuh normal.
Tidak tersedia versi lain