Skripsi Sosial Ekonomi Pertani
Analisis Break Even Point Usaha Tempe Asli Hidup Bersama (H.B) terhadap Fluktuasi Harga Bahan Baku Kedelai di Kota Palu
Maulana Moch. Sidiq (E 321 21 162) Analisis Break Even Point Usaha Tempe Asli Hidup Bersama (H.B) terhadap Fluktuasi Harga Bahan Baku Kedelai di Kota Palu dibimbing oleh (Marhawati dan Siti Yuliaty Chansa Arfah), 2026 Tempe merupakan salah satu pangan utama masyarakat dengan bahan baku kedelai yang sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Usaha Tempe Asli H.B menggunakan kedelai impor dengan fluktuasi harga yang berdampak pada peningkatan biaya produksi, sementara perusahaan tempe ini jumlah produksi dan harga jual produk tetap dipertahankan. Situasi ini memunculkan pertanyaan seberapa besar pendapatan dan posisi BEP perusahaan ini dengan fluktuasi harga bahan baku tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus pada struktur biaya dengan variasi harga bahan baku. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive karena usaha ini sepenuhnya menggunakan kedelai impor. Responden terdiri atas pimpinan, bendahara, dan karyawan tetap. Data primer diperoleh melalui observasi, wawancara menggunakan kuesioner, dan data sekunder berasal dari instansi terkait. Analisis dilakukan melalui perhitungan biaya yang terdiri dari komponen biaya variabel dan komponen biaya tetap, dengan alat analisis BEP. Hasil analisis memperlihatkan penerimaan Usaha Tempe Asli H.B stabil sebesar Rp 810.000.000/ bulan di tengah fluktuasi harga bahan baku kedelai. Volume produksi dan harga jual tidak berubah, namun kenaikan harga bahan baku mendorong biaya produksi naik signifikan sehingga keuntungan cenderung menurun. Pendapatan bersih turun dari Rp 195.604.083 saat harga kedelai Rp 10.000/ Kg menjadi Rp 105.604.083, pada harga Rp 12.000/ Kg, dan Rp 60.604.083 ketika harga mencapai Rp 13.000. Struktur biaya menunjukkan lebih dari 70% dialokasikan untuk bahan baku, sedangkan komponen tenaga kerja dan biaya penolong tetap stabil. Hasil analisis BEP untuk kemasan 90 gram pada harga terendah diperoleh BEP produksi -904.288, BEP harga Rp1.388, BEP penerimaan Rp-1.121.619.400. Hasil analisis BEP untuk kemasan 250 gram pada harga tertinggi diperoleh BEP produksi sebesar 41.773, BEP harga Rp2.776, dan BEP penerimaan Rp166.910.839. Berdasarkan BEP harga pada produksi kemasan 90 gram sesungguhnya perusahaan ini menjual rugi, sedangkan pada BEP harga untuk kemasan 250 gram perusahaan ini memperoleh keuntungan yang besar karena harga penjualan di atas BEP sebesar Rp4.000.
Tidak tersedia versi lain