Skripsi Budidaya Pertanian
Kualitas Kimia dan Organoleptik Tempe Biji Nangka (Artocarpus heterophyllus) dari Berbagai Konsentrasi Ragi dan Lama Perendaman
Nanda Aulia H (E 281 21 152) Kualitas Kimia dan Organoleptik Tempe Biji Nangka (Artocarpus heterophyllus) dari Berbagai Konsentrasi Ragi dan Lama Perendaman. (Dibimbing oleh Dr. Ir. Syahraeni Kadir, MP dan Dr. Amalia Noviyanty, SP., M.Si).
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ragi dan lama fermentasi biji nangka yang tepat berdasarkan sifat kimia dan sensoris tempe biji nangka. Penelitian menggunakan Ranangan Acak Lengkap (RAL) untuk analisis kimia dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan untuk analisis pada pengujian organoleptik. Metode pengumpulan data dilakukan dengan eksperimen dan studi pustaka yaitu dengan memberikan perlakuan terhadap sampel yang diteliti. Penelitian yang dilakukan menggunakan variabel lama fermentasi 36 jam dan 48 jam, dengan kadar ragi tempe 1,5%, 2%, 2,5%, dan 3%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 24 percobaan. Untuk mengetahui kandungan gizi dan kimia pada tempe biji nagka dilakukan analisis produk meliputi analisis kadar air, analisis kadar serat, dan analisis kadar protein, analisis antioksidan, dan uji organoleptik (warna, rasa, aroma, tekstur dan kesukaan). Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan yaitu perlakuan terbaik tempe biji nagka dengan berbagai konsentrasi ragi dan lama fermentasi perlakuan kadar air tertinggi yaitu pada perlakuan P1F1 dengan konsentrasi ragi 1,5% dan lama fermentasi 36 jam. Saran untuk perlakuan pada tempe biji nangka yang belum memenuhi kriteria uji organoleptik dan parameter pengamatan lainnya, disarankan dilakukan modifikasi formulasi atau perlakuan pendukung, seperti penambahan bahan campuran tinggi protein (misalnya kacang kedelai atau kacang-kacangan lainnya), atau pengaturan ulang lama fermentasi dan konsentrasi ragi agar proses fermentasi berlangsung lebih optimal. Selain itu, pengolahan awal biji nangka, seperti perendaman, pengempukan, atau hidrolisis enzimatis, dapat diteliti lebih lanjut untuk meningkatkan ketersediaan nutrien dan memperbaiki karakteristik sensoris produk. Pengembangan metode fermentasi campuran (mixed culture)juga dapat menjadi alternatif utnuk meningkatkan kualitas gizi dan organoleptik tempe biji nangka.
Tidak tersedia versi lain